Jumat, 24 Juli 2009

At The First Strike...!!!

Pasti menyenangkan jika menemui satu hal baru, apalagi hal baru itu sangat kita sukai. Entah bepergian ke suatu tempat, mencoba menu makanan baru, atau sekadar bermain di taman kota, untuk apa saja..seperti, lari pagi mungkin?duduk-duduk saja mungkin?bisa juga hanya memperhatikan orang-orang yang berkeliaran di sana-sini, terserah kalian saja mau melakukan apa di sana ^_^

Nah..untuk saya, saya akan menceritakan tentang satu hal yang baru saya temui. mungkin sedikit. tidak banyak. mungkin kalau boleh diberi judul, bab yang satu ini adalah bab sabar. Saya juga tidak tau bagaimana saya merespon hal ini, entahlah menyenangkan atau tidak, tak jadi soal buat saya, yang saya pikirkan adalah hal ini baru bagi saya. Dan hal itu adalah hal tentang kesadaran..iya..benar, k..e..sa..da..ran…

belakangan saya baru menyadari, saya itu kurang sabar..(sssttt…!!!jangan ramai dong, saya malu mengakuinya nih^_^)

mungkin, kalau ada ujian untuk bab yang satu ini saya akan berulang kali kena HER..

tapi yakinlah, pernyataan saya tadi bukan berarti lantas saya menyerah, dan menjadikan Si SABAR tadi sebagai Tembok Besar Cina atau akrab dikenal dengan Great Wall, yang membentang di negeri Tirai Bambu itu. Tembok Besar yang sangat tidak mungkin untuk dihancurkan. bahkan seribu kekuatan bom - yang berhasil menghancurkan sebagian hotel JW Mrriot & Ritz Calton - pun juga belum tentu bisa merobohkan tembok itu..

Dan saya juga tidak bermaksud menjadikannya hal ini ringan – seringan kapas, dan saya juga tidak ingin merubahnya menjadi hal yang sepele –seperti bayangan, yang selalu ada tapi selalu tidak kita hiraukan keberadaannya dan yang lebih mengenaskan lagi, kita injak-injak dia.
tidak..tidak seringan dan sesepele itu..
hmm, jadi baiknya saya anggap seperti apa ya?
atau begini saja, dari pada rumit memikirkan seperti apa akan saya anggap si sabar tadi, saya kira akan lebih baik jika saya mencari tau apa yang harus dilakukan orang yang kurang sabar seperti saya..hmm apa ya..
apakah saya harus tenggelam berjam-jam dalam genangan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran?atau berkawan dengan orang yang memiliki kadar kesabaran yang jauh di atas kadar sabar saya??hmm, bisa juga sih..!!
kalau membahas bab ini, saya jadi ingat satu kisah beberapa abad lalu.
haaa..ternyata jauh-jauh hari Rasulullah sudah memberi pesan tentang bab yang satu ini.

coba kita simak sama-sama ya kisahnya..ini diaa..:

(sedikit panjang, Naah..sedikit bersabar ya untuk membaca kisahnya ^_^)

Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dari suatu tempat. Di tengah perjalanan beliau SAW mendengar jeritan-jeritan yang berasal dari sebuah rumah. Ketika melewati rumah tersebut, beliau SAW mendapati ternyata suara tersebut berasal dari seorang Ibu yang tak kuasa menahan sedih karena ditinggal mati anaknya.

Melihat itu, Rasulullah SAW setelah mengucap salam kemudian berkata kepada ibu itu: ”Sabar..bersabarlah, Wahai Ibu.”. Mendengar ucapan itu, si Ibu yang sedang bersedih itu tanpa melihat lagi siapa yang menasehati langsung bilang: ”Enak saja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.

Mendengar jawaban ibu itu Rasul mulia SAW tidak marah. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Rupanya dialog antara ibu dengan Rasulullah SAW tadi disaksikan oleh seseorang lelaki. Beberapa hari setelah itu lelaki tersebut mendatangi si Ibu tadi dan kemudian berkata: ”Apa jawabanmu terhadap seruan untuk bersabar dari seseorang yang datang waktu hari kematian anakmu yang lalu”. Si ibu yang tahu maksud pertanyaan itu menjawab: ”Aku bilang, enak aja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.

Lelaki tersebut kemudian berkata: ”Astaghfirullah! Sangat tidak sopan jawabanmu terhadap Rasul Allah!”. Bagaikan disambar geledek, bukan kepalang terkejutnya si Ibu tadi ketika mengetahui bahwa orang yang dia hardik itu adalah Rasulullah SAW. Seketika itu juga si Ibu datang ke rumah Rasulullah SAW untuk meminta maaf.

Sesampainya di rumah Rasulullah SAW, ia dipersilahkan masuk. Kemudian Rasulullah SAW berkata: ”Apa maksud kedatanganmu kemari, wahai Ibu?”. Ibu itu menjawab: ”Aku bermaksud meminta maaf kepadamu atas ucapanku kepadamu tempo hari yang tidak sopan. Benar sekali nasehatmu ya Rasul, bahwa sebaiknya aku bersabar. Dan kini aku telah mengikuti anjuranmu untuk bersabar. Sekarang aku sabar, wahai Rasul Allah”.

Rasul mulia kemudian menjawab: ”Sabar itu adalah pada pukulan pertama.”

Yang dimaksud Rasulullah SAW dengan perkataan tersebut adalah bahwa kita dianjurkan untuk bersabar pada saat kita pertama menerima sebuah cobaan. Itulah kondisi-kondisi kritikal yang sangat memerlukan kesabaran tersebut. Setelah lewat masanya, sabar hanya berguna sebagai pelajaran untuk masa berikutnya. Akibat buruk karena ketidaksabaran kita telah terjadi dan tidak dapat kita putar ulang. Begitulah sabar yang dimaksudkan oleh Islam, sabar at first strike.

hmm, bermanfaat bagi saya, semoga bagimu juga ya...!!
terimakasih juga bagi yang menyajikan kisah ini disini :
(http://abufauzan.multiply.com/journal/item/6/Sabar_at_First_Strike)

1 komentar:

  1. he..he.. bagus ir... sebelum aku bikin blog aku udah baca lho blog kamu duluan... yuk perbagus isi blog masing masing biar bermanfaat bagi yang membacanya... keep spirit....

    BalasHapus