Jumat, 12 September 2008

APA Perlunya BERAGAMA??

Dalam kehidupan yang sangat materialistik, batas antara Tuhan dan kebendaan menjadi tipis, kadang Tuhan menjelma menjadi jabatan, peluang, karir dan lainnya. Sehingga beragama pada abad sekarang ini serasa hampa.

Atau paling tidak agama diakui eksistensinya, namun dipinggirkan perannya dalam sudut-sudut individual. Sebagaimana diungkap John Locke: "Agama bersifat khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi orang lain memberi petunjuk kepadaku jika jiwaku sendiri tidak memberitahu kepadaku."

Begitu pula ungkapan kalangan profesional muda akhir-akhir ini. Benarkah sinyalemen ini?

Pandangan pakar abad 16-17 itu langsung dibantah oleh Mahmud Syaltut dengan pernyataannya: "Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia."

Sementara Syaikh Muhammad Abdullah Badran lebih mengangkat definisi Al Quran dengan pendekatan kebahasaan. Din yang biasa diterjemahkan sebagai agama menggambarkan "hubungan antara dua pihak dimana yang pertama punya kedudukan lebih tinggi daripada yang kedua."

Memang, pada dasarnya manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu. Ketika itu yang diketahuinya hanya 'saya tidak tahu'. Tapi kemudian, dengan panca indra, akal, dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah.

Dengan coba-coba, pengamatan, pemikiran logis, dan pengalamannya, ia menemukan pengetahuan. Namun demikian, keterbatasan panca indera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya yang muncul dalam benaknya tidak dapat terjawab.

Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah ia bila tidak terjawab. Hal ini antara lain dikarenakan manusia memiliki naluri ingin tahu (couriosity) .

Kalau demikian, manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mendesak yang mengganggu ketenangan jiwanya atau menjadi syarat bagi kebahagiaannya. Disinilah informasi Tuhan itu datang.

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang apa informasi itu dan bagaimana diperoleh, kita lihat sisi lain dari sebab kebutuhan manusia terhadap agama. Sisi itu adalah sisi kehidupannya sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ada sekian banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Petani memerlukan baju yang tidak dapat dibuatnya sendiri, karena keterbatasan waktu dan pengetahuannya. Di sisi lain penenun membutuhkan makan, ikan, garam, lauk pauk, dan lainnya. Bila sakit ia membutuhkan dokter dan obat serta masih banyak lagi kebutuhan manusia yang kesemuanya baru dapat terpenuhi apabila mereka bekerja.

Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai ke tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berlain-lainan, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan.

Nah, dengan demikian, ia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Manusia membutuhkan rambu-rambu lalu lintas yang akan memberinya petunjuk seperti kapan harus berhenti, harus hati-hati dan kapan berjalan.

Siapa yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? Manusiakah? Paling tidak dalam persoalan pengaturan di atas, manusia mempunyai dua kelemahan: pertama, keterbatasan pengetahuannya. Kedua, sifat egoisme atau ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Kalau demikian, yang seharusnya mengatur lalu lintas kehidupan adalah Dia yang paling mengetahui sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun. Yang dimaksud adalah Allah SWT.

Allah yang menetapkan peraturan-peraturan tersebut, baik secara umum, berupa nilai-nilai, maupun secara rinci. Khususnya bila perincian petunjuk itu tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Peraturan-peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

Lantas bagaimana informasi keagamaan itu diterima manusia? Pada dasarnya menusia memperoleh pengetahuan berkat usahanya dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tetapi, dalam kenyataannya, terkadang manusia memperoleh pula informasi tanpa ada upaya darinya.

Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bahwa ada dua faktor dalam setiap aksi pengetahuan, yaitu subjek dan objek. Sehubungan dengan proses pemahaman, ada dua kemungkinan proses. Pertama, subjek merangkum objek dengan potensi (alat-alat) yang dimilikinya. Kedua, objek yang memperhatikan dirinya sendiri kepada subjek. Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat, sedangkan jalur kedua adalah jalur agama dan yang dikenal dengan istilah wahyu.

Para ahli memberi contoh untuk ini dengan mimpi-mimpi yang benar. Semakin suci dan bersih jiwa seseorang, semakin sering ia bermimpi dengan mimpi yang benar. Enam bulan sebelum menerima wahyu pertama, Rosulullah Muhammad SAW selalu bermimpi dan selalu terbukti kebenaran mimpinya. "Mimpi yang benar adalah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian." demikian sabda Nabi SAW. Contoh lain adalah, planet-planet yang jauh sekali sehingga jangankan pandangan mata, alat-alat teleskop pun tidak dapat menjangkaunya. Tetapi, sesekali planet-planet itu memasuki wilayah dimana kemampuan alat-alat manusia dapat menajngkaunya. Seperti komet Hally, setiap tujuh puluh tahun ia datang menampakkan dirinya.

Di sini, objek datang kepada manusia. Para ahli yang menggunakan alat-alatnya mengetahui persis keadaan komet tersebut. Para ahli yang tidak hidup pada masa kedatangan komet tersebut atau memiliki alat-alat, tetapi tidak dapat melihatnya, membenarkan keterangan para ahli yang melihatnya.

Demikian wahyu-wahyu Ilahi yang diterima manusia-manusia tertentu, dalam hal ini para nabi. Walaupun yang lain tidak menerimanya, namun mereka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Memang ada saja manusia meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah SWT akan memberikan bukti kebenaran. Mereka yang meragukan ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan manusia pilihan Tuhan itu seperti para nabi. Bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai mu'jizat. Allah sendiri menuding mereka yang tak memerlukan agama adalah makhluq asosial, atau makhluk yang sombong!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar