Selasa, 16 September 2008

Buat Apa Kerja...

Di tengah seabreg rutinitas, terkadang tiba-tiba kita merasakan kepenatan bekerja..dan muncul segala keluh kesah kita mulai dari 'A-Z'..
lama-kelamaan, muncul pertanyaan mengapa atau untuk apa kita bekerja??apakah hanya untuk mendapatkan 'segenggam berlian dan sesuap nasi'?? atau untuk mengejar karier tertinggi di tempat kita bekerja??atau bahkan hanya untuk mengisi kekosongan waktu dan mendadak menjadi orang yang perfectsionist, agar jika suatu saat di tanya oleh orang lain apakah sudah bekerja atau belum, maka kita sudah punya jawabannya, "ya...saya sudah bekerja.." dan secara 'sinis' anda mengatakan kepada diri kita sendiri, "nah..saya bukan pengangguran toh..??"

di titik inilah, saya menyadari..ternyata saya sendiri masih kurang mengetahui tujuan rutinitas yang setiap hari saya kerjakan..
hampir-hampir saya 'muak', karena tiba-tiba tersadar apakah saya hanyalah MESIN??atau ROBOT yang menjadi 'korban' gedung-gedung pencakar langit di Ibukota ini??..

Namun, ketika saya serahkan bahwa ada yang menggenggam diri, jiwa, dan kehidupan ini..maka saya mencari tahu..adakah hubungan antara kerja dengan ibadah??karena, saya khawatir, jangan-jangan selama ini pekerjaan yang saya jalani hanya RUTINITAS dan KESIBUKAN untuk mengejar DUNIAWI semata, yang mungkin..sama sekali tak bernilai di sisi-Nya dan mungkinkah kerja-kerja KE-DUNIAWI-AN kita itu dinilai olehNya??lalu seharusnya apa yang tepat untuk kita jadikan TUJUAN dari pekerjaan yang kita lakukan??dan bagaimanakah posisi rutinitas kerja kita itu dimata Allah??

***********

Bekerja merupakan kewajiban Muslim yang sehat fisik dan mental. Orang yang bekerja dengan benar, dalam rangka menjalankan perintah dan mengharapkan ridho Allah akan mendapat ganjaran pahala dari-Nya. Sebaliknya, orang yang mengabaikannya mendapat dosa, apabila tidak ada halangan syar'i dalam mewujudkannya.

Kerja merupakan wujud syukur kepada Allah. Orang bekerja berarti telah menggunakan nikmat kesehatan fisik yang diberikan Allah secara baik dan benar. Allah berfirman, "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS 34:13).

Islam menghargai orang yang makan dan minum dari hasil kerja sendiri. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan itu lebih baik daripada mengonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab Nabi Allah, Daud, mengonsumsi makanan dari hasil kerjanya." (HR Bukhari). Hadis ini mendorong Muslim bekerja memperoleh kebutuhan hidup menggunakan tangan dan kekuatan fisik. Kemuliaan dan kehormatannya ditentukan oleh kemampuan menggunakan potensi diri untuk bekerja.

Dalam bekerja harus ada rencana yang baik dan matang karena akan menentukan keberhasilan dari kerja tersebut. Rencana dibuat untuk jangka pendek dan panjang. Allah berfirman, "Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 59:18).

Muslimin diperintahkan Allah bekerja, tetapi ia tidak mengetahui dan bisa memastikan hasilnya. Ini pula yang mendorongnya bekerja maksimal agar mencapai hasil memuaskan. Allah berfirman, "Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS 31:34).

Setiap Muslim dituntut bekerja sekuat tenaga dan mengerahkan segala kemampuan. Allah menilai kesungguhannya dalam bekerja. Allah berfirman, "Katakanlah: 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah di antara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini'."(QS 39:39).

Kerja merupakan bagian ibadah kepada Allah, sehingga dilakukan dengan cara terbaik. Kerja tidak boleh melalaikan Muslim dari ibadah kepada Allah. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS 62:9).

Setelah bekerja secara maksimal, Muslim dituntut tawakal, menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal penting agar ketika berhasil tidak lupa bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan hasil kerja tersebut. Dan ketika gagal, ia tidak putus asa karena hal itu ujian dari Allah agar kita bersabar. Allah berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS 33:3).

Last Updated ( Friday, 02 December 2005 )
sumber :http://riskaonline.org

Jumat, 12 September 2008

LASKAR PELANGI....















Lirik lagu Nidji - Laskar Pelangi


mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya


http://www.4shared.com/get/61039294/de611e22/nidji_-_laskar_pelangi.html

PILIH MANA: ILMU, FILSAFAT ATAU AGAMA???

Suatu hari seorang mahasiswa yang sedang kebingungan memahami hidup bertanya pada dosennya, "Pak mana sih yang perlu kita pegang dalam menghadapi masalah hidup. Ilmu, filsafat atau agama?"

Pertanyaan ini tentu saja menyentakkan sang dosen yang sebenarnya memiki fak mengajar Akuntansi. Untung saja, saat sang dosen masih mahasiswa sempat aktif di lingkungan pengajian, sehingga dia bisa memberi dan menguraikan perbedaan tiga ranah pemikiran itu dengan bijak dan akurat.

Namun sang dosen juga berusaha menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru. Penjelasan dosen itu demikian. "Pada dasarnya ketiga cabang pengetahuan itu (ilmu, filsafat dan agama) sering menjadi bagian dari cara manusia mengambil keputusan. Hanya saja satu sama lainnya saling berjalin berkelindan, sesuai dengan kapasitas persoalan yang dihadapi."

Sang dosen masih menjelaskan, namun lebih hati-hati agar tidak terperangkap dalam bias. "Ketiga cabang pengetahuan itu pada dasarnya sama manfaatnya bagi manusia, yang membedakan adalah pada tiga hal: proses memperolehnya, dasar dan sifat kebenaran yang ditawarkan."

Ilmu, menurut sang dosen, dalam proses memperolehnya melalui penelitian lewat pembuktian laboratorium. Yang mendasari bekerjanya ilmu adalah akal sehat, sehingga kebenaran yang ditawarkan bersifat positf relatif. Artinya, kebenaran yang ditawarkan ilmu itu memang benar, tapi tidak mutlak.

Sementara filsafat pada dasarnya merupakan proses berfikir secara radikal, penuh logika. Akal adalah dasar dari filsafat menjelaskan segala hal, segala yang masuk akal adalah benar menurut versi filsafat. Segala hal yang tidak masuk akal adalah tidak benar. Karena itu sifat kebenaran yang ditawarkan filsafat adalah spekulatif.

Sedangkan agama (khususnya Islam), proses turunnya melalui wahyu, sehingga titik tolaknya adalah wahyu Allah. Sementara dasar memahami agama adalah dengan pendekatan akal dan hati. Check and balance antara akal dan hati ini pada akhirnya menawarkan kebenaran yang mutlak.

Mahasiswa itupun protes, "Apa alasannya kebenaran agama itu mutlak, apakah kebenaran agama itu sempurna?" Maklum sang mahasiswa lagi gandrung dengan pemikiran Karl Marx, bahkan dia sedang menghabiskan setengah dari buku Das Capital yang dimilikinya.

Dengan lebih hati-hati sang dosen menjawab, "Alasannya, pertama, dalam kitab suci jelas-jelas mengklaim bahwa Al haq mirrobbika falaa takunanna minal mumtarin (Kebenaran dari Tuhan itu adalah mutlak dan hakiki, maka janganlah mencari kebenaran yang lain)."

"Kedua, kebenaran agama terjaga dan terabadikan dalam kitab suci Al Qur'an, dimana di dalamnya ada instrumen yang menjaga kesuciannya dari tangan-tangan kotor yang berusaha menodainya. Yakni ilmu kelengkapan memahami Al Qur'an, seperti tajwid (membaca dengan benar), tartil (membaca dengan indah), mantiq (logika kitab suci), balaghoh (asal usul kata dan bahasa) nahwu sharaf (gramatika) dan siroh (sejarah sebagai instrumen konfirmasi). "

"Ketiga, kebenaran agama berangkat dari kitab suci al-Quran yang konfirmasinya ada pada alam raya. Soal manusia dari tiada, dihidupkan, dimatikan dan dihidupkan lagi, dan akhirnya kembali pada-Nya. Soal astronomi, soal fenomena gunung meletus, langit tanpa tiang, serta soal air laut yang terbelah antara air asin dan air tawar, air panas dan air dingin, dst."

"Keempat, kebenaran agama berangkat dari tokoh yang menjadi penyampai pesannya (devine messenger). Aisyah mengatakan Rasulullah itu adalah al-Quran yang berjalan: jujur, berani, bersih, mengayomi, konsisten, dan ajarannya mampu mempengaruhi 2/3 dunia. Sejarah yang tak pernah terulang hingga detik ini."

"Kelima, kebenaran agama kendati disingkirkan, dibantai, dimusnahkan, tetap abadi karena memang yang menjaga langsung adalah Allah SWT melalui orang-orang cerdasnya, orang-orang berani, orang-orang yang tidak takut akan mati."

Sang mahasiswa akhirnya mengerti betapa kelengkapan- kelengkapan yang ditawarkan dalam agama pada akhirnya menawarkan kebenaran yang sifatnya mutlak....demikian simpulnya sambil mengancam kalau-kalau ada kebenaran yang lebih tinggi yang terus dicarinya!!!

APA Perlunya BERAGAMA??

Dalam kehidupan yang sangat materialistik, batas antara Tuhan dan kebendaan menjadi tipis, kadang Tuhan menjelma menjadi jabatan, peluang, karir dan lainnya. Sehingga beragama pada abad sekarang ini serasa hampa.

Atau paling tidak agama diakui eksistensinya, namun dipinggirkan perannya dalam sudut-sudut individual. Sebagaimana diungkap John Locke: "Agama bersifat khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi orang lain memberi petunjuk kepadaku jika jiwaku sendiri tidak memberitahu kepadaku."

Begitu pula ungkapan kalangan profesional muda akhir-akhir ini. Benarkah sinyalemen ini?

Pandangan pakar abad 16-17 itu langsung dibantah oleh Mahmud Syaltut dengan pernyataannya: "Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia."

Sementara Syaikh Muhammad Abdullah Badran lebih mengangkat definisi Al Quran dengan pendekatan kebahasaan. Din yang biasa diterjemahkan sebagai agama menggambarkan "hubungan antara dua pihak dimana yang pertama punya kedudukan lebih tinggi daripada yang kedua."

Memang, pada dasarnya manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu. Ketika itu yang diketahuinya hanya 'saya tidak tahu'. Tapi kemudian, dengan panca indra, akal, dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah.

Dengan coba-coba, pengamatan, pemikiran logis, dan pengalamannya, ia menemukan pengetahuan. Namun demikian, keterbatasan panca indera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya yang muncul dalam benaknya tidak dapat terjawab.

Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah ia bila tidak terjawab. Hal ini antara lain dikarenakan manusia memiliki naluri ingin tahu (couriosity) .

Kalau demikian, manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mendesak yang mengganggu ketenangan jiwanya atau menjadi syarat bagi kebahagiaannya. Disinilah informasi Tuhan itu datang.

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang apa informasi itu dan bagaimana diperoleh, kita lihat sisi lain dari sebab kebutuhan manusia terhadap agama. Sisi itu adalah sisi kehidupannya sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ada sekian banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Petani memerlukan baju yang tidak dapat dibuatnya sendiri, karena keterbatasan waktu dan pengetahuannya. Di sisi lain penenun membutuhkan makan, ikan, garam, lauk pauk, dan lainnya. Bila sakit ia membutuhkan dokter dan obat serta masih banyak lagi kebutuhan manusia yang kesemuanya baru dapat terpenuhi apabila mereka bekerja.

Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai ke tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berlain-lainan, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan.

Nah, dengan demikian, ia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Manusia membutuhkan rambu-rambu lalu lintas yang akan memberinya petunjuk seperti kapan harus berhenti, harus hati-hati dan kapan berjalan.

Siapa yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? Manusiakah? Paling tidak dalam persoalan pengaturan di atas, manusia mempunyai dua kelemahan: pertama, keterbatasan pengetahuannya. Kedua, sifat egoisme atau ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Kalau demikian, yang seharusnya mengatur lalu lintas kehidupan adalah Dia yang paling mengetahui sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun. Yang dimaksud adalah Allah SWT.

Allah yang menetapkan peraturan-peraturan tersebut, baik secara umum, berupa nilai-nilai, maupun secara rinci. Khususnya bila perincian petunjuk itu tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Peraturan-peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

Lantas bagaimana informasi keagamaan itu diterima manusia? Pada dasarnya menusia memperoleh pengetahuan berkat usahanya dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tetapi, dalam kenyataannya, terkadang manusia memperoleh pula informasi tanpa ada upaya darinya.

Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bahwa ada dua faktor dalam setiap aksi pengetahuan, yaitu subjek dan objek. Sehubungan dengan proses pemahaman, ada dua kemungkinan proses. Pertama, subjek merangkum objek dengan potensi (alat-alat) yang dimilikinya. Kedua, objek yang memperhatikan dirinya sendiri kepada subjek. Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat, sedangkan jalur kedua adalah jalur agama dan yang dikenal dengan istilah wahyu.

Para ahli memberi contoh untuk ini dengan mimpi-mimpi yang benar. Semakin suci dan bersih jiwa seseorang, semakin sering ia bermimpi dengan mimpi yang benar. Enam bulan sebelum menerima wahyu pertama, Rosulullah Muhammad SAW selalu bermimpi dan selalu terbukti kebenaran mimpinya. "Mimpi yang benar adalah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian." demikian sabda Nabi SAW. Contoh lain adalah, planet-planet yang jauh sekali sehingga jangankan pandangan mata, alat-alat teleskop pun tidak dapat menjangkaunya. Tetapi, sesekali planet-planet itu memasuki wilayah dimana kemampuan alat-alat manusia dapat menajngkaunya. Seperti komet Hally, setiap tujuh puluh tahun ia datang menampakkan dirinya.

Di sini, objek datang kepada manusia. Para ahli yang menggunakan alat-alatnya mengetahui persis keadaan komet tersebut. Para ahli yang tidak hidup pada masa kedatangan komet tersebut atau memiliki alat-alat, tetapi tidak dapat melihatnya, membenarkan keterangan para ahli yang melihatnya.

Demikian wahyu-wahyu Ilahi yang diterima manusia-manusia tertentu, dalam hal ini para nabi. Walaupun yang lain tidak menerimanya, namun mereka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Memang ada saja manusia meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah SWT akan memberikan bukti kebenaran. Mereka yang meragukan ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan manusia pilihan Tuhan itu seperti para nabi. Bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai mu'jizat. Allah sendiri menuding mereka yang tak memerlukan agama adalah makhluq asosial, atau makhluk yang sombong!!!

Kamis, 11 September 2008

Keutamaan Al-Qur'an

sumber: Tafsir Sepersepuluh dari Al-Qur’an Al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting bagi Muslim, hal 74-75. http://www.%20tafseer.info/


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan kekasih kita, Rasulullah, keluarga beserta para sahabat beliau, shalallahu ‘alaihi wasalam.


Amma ba’du

Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah. Keutamaannya atas segala perkataan seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya. Membacanya adalah amalan yang paling utama dilakukan oleh lisan.
Keutamaan Mempelajari, Mengajarkan, dan Membaca Al-Qur’an


Pahala mengajarkannya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Pahala membacanya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Keutamaan mempelajari al-Qur’an, menghafalnya, dan pandai membacanya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:

“Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membaca di dunia karena kedudukanmu terletak pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Khaththabi mengatakan:
“Disebutkan dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Qur’an adalah sesuai dengan jumlah tingkatan dalam surga. Dikatakan kepada pembaca (al-Qur’an), ‘Naiklah dalam tingkatan sesuai dengan ayat al-Qur’an yang sebelumnya kamu baca (di dunia).’ Karena itu siapa yang membaca dengan sempurna seluruhnya al-Qur’an, maka ia menempati tingkatan surga yang paling atas di akhirat. Sedang siapa yang membaca sesuatu juz darinya, maka kenaikannya dalam tingkatan surga sesuai dengan bacaannya itu. Dengan demikian, akhir pahalanya adalah pada akhir bacaannya.

Pahala bagi orang yang anaknya mempelajari Al-Qur’an.

“Siapa saja membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya yang sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanyapun bertanya, ‘Bagaimana dipakaikan kepada kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘Karena anakmu telah membawa al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Al-Qur’an memberi syafa’at kepada ahlinya di Akhirat.
Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para ahlinya.” (HR. Muslim)

Dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Puasa dan al-Qur’an, keduanya akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat…” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Pahala bagi orang yang berkumpul untuk membaca dan mengkajinya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah Ta’ala, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Pelipatgandaan Pahala Bacaan

Setiap orang yang membaca al-Qur’an dengan ikhlas Lillahita'ala, maka ia mendapat pahala. Namun pahala ini dilipatgandakan jika disertai dengan kehadiran hati, penghayatan, dan pemahaman terhadap ayat yang dibaca. Maka satu huruf bisa dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kebaikan, bahkan tujuh ratus kali lipat.
Jumlah Ayat yang Dibaca dalam Sehari Semalam
Para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam biasanya membuat untuk diri mereka sendiri sejumlah ayat al-Qur’an untuk dibaca setiap hari. Tidak seorangpun dari mereka yang senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu kurang dari tujuh hari. Bahkan ada larangan berkenaan dengan mengkhatamkan al-Qur’an kurang dari tiga hari.
Maka berupayalah dengan sungguh-sungguh saudaraku, untuk memanfaatkan waktu Anda dengan membacanya. Buatlah untuk diri Anda kadar bacaan harian, dan janganlah Anda meninggalkannya dalam keadaan bagaimanapun. Sedikit tapi terus menerus lebih baik daripada banyak tapi terputus. Karena itu, jika Anda lalai atau ketiduran maka laksanakan gantinya pada esok harinya.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Siapa saja tidur melupakan hizbnya atau sesuatu darinya, lalu membacanya pada waktu antara Shalat Subuh dan Shalat Zhuhur, maka dicatat baginya pahala seakan-akan ia telah membacanya di malam hari.” (HR. Muslim)

Rabu, 10 September 2008

Mengapa kita membaca Al-Quran meskipun kita tidak mengerti artinya?

Seorang Muslim tua, Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.
Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur'An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, "Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air." Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. " Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita."
(milist INSANI13)

BERITA, FITNAH, dan GIBAH

Pekerjaan jurnalistik adalah pekerjaan yang sangat riskan dalam hal suguhan informasi. Paling tidak, suguhan informasi yang ditawarkan bisa berkualitas berita, bisa fitnah dan bisa ghibah. Tiga kualitas informasi tersebut secara kasat mata sulit dibedakan. Ketiganya hanya dibatasi oleh selaput dinding yang tipis, karena itu peran cover both side menjadi kewajiban yang tak terelakkan. Berita pada dasarnya merupakan informasi tentang sesuatu yang faktanya sama dengan yang diinformasikan. Berita bisa bernuansa memuja, mengevaluasi, mengkritik, bahkan sekadar pemaparan biasa. Fitnah, merupakan jenis informasi yang mana isinya berbeda dengan faktanya. Biasanya berita yang disampaikan si penutur lebih buruk dari fakta yang sesungguhnya. Karena itu fitnah, sering diistilahkan Rosul, sebagai perbuatan yang lebih keji dari pembunuhan. Bagaimana tidak, orang yang ditifnah seperti mayat yang tak berdaya dicaci maki dan diburuk rupai sedemikian rupa, sehingga terkesan buruk laku yang tak terampuni. Padahal, mereka yang kerap memfitnah menderita dua kerugian, sebaliknya yang difitnah mendapat dua manfaat sekaligus. "Dosa orang yang difitnah itu akan pindah kepada yang memfitnah, sampai dosa itu habis. Kemudian pahala orang yang memfitnah berpindah kepada yang difitnah," demikian salah satu sahih Bukhori Muslim. Atas dasar riwayat tersebut, suatu hari Imam Syafi'ie mendapat aduan dari istrinya, bahwa para tetangganya telah memfitnah sang imam. Tanpa banyak cingcong, Imam Syafi'ie menyuruh istrinya memasak gulai dan membagikan gulai tersebut kepada para tetangga yang memfitnahnya. Lalu istrinya bertanya, "Mengapa engkau malah menghadiahi orang yang memfitnah dengan gulai-gulai itu?" Imam Syafi'ie manjawab," Karena pahalaku bertambah dan dosaku berkurang." Akan halnya ghibah, Rosulullah pernah bertanya pada sahabat," Bisakah kalian membedakan antara fitnah dan ghibah?" Sahabat menjawab," Tidaklah Rosulnya lebih tahu daripada yang ditanya." Lalu Rosul menjelaskan, "Fitnah itu adalah memberitakan saudara lebih buruk dari yang sesungguhnya. Sedangkan ghibah membicarakan aib saudaramu sesuai keburukan yang dilakukan." Lantas mana lebih parah antara memfitnah dengan menggibah? Rosul mengatakan dosa memfitnah setara dengan membunuh seorang manusia. Sedangkan dosa mengghibah setara melakukan 20 kali berzinah. Pendek kata, keduanya sama-sama tergolong dosa besar. Pertanyaan berikutnya, apa beda mengghibah dengan berita benar tentang seseorang. Bedanya terletak pada moral ketika aib itu dipaparkan. Berita memaparkan aib seseorang dengan tujuan untuk memperbaikinya, sedangkan ghibah memaparkan aib saudara dengan tujuan memang ingin melakukan caracter assasination, menghinakan, dan menistakan. Sikap Rosul Suatu hari dengan tergesa-gesa datang seorang sahabat dari keturunan Arab Gunung kepada Rosulullah, bernama Abun Naba'. Dia membawa berita kontroversial, dikatakan bahwa Aisyah istri Rosul telah berzinah. Sontak jantung Rosul berdetak keras sambil giginya gemeretak geram. "Apa aku kurang membimbing sang istri, apa aku kurang memuaskan, apa aku kurang memberi nafkah, apa aku kurang perhtaian?" demikian Rosul berprasangka terhadap dirinya sendiri. Berita itupun tersiar ke pelosok Mekah sehingga menimbulkan under estimate terhadap istri Rosul. Dalam kebingungan dan gundah gulana, tiba-tiba badan Rosul bergetar keras, keringat bak butiran jagung bercucuran dari kening dan sekujur tubuhnya. Ternyata saat itu Rosul baru mendapat wahyu terkait dengan informasi Abun Naba'. "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasiq kepadamu membawa berita, maka bertabayunlah. .." demikian penggalan surat Al Hujurot ayat 6 yang baru diterima Rosul. Rosul diingatkan tentang bagaimana bersikap terhadap berita yang sampai kepadanya, apalagi berita itu menyangkut berita buruk. Allah memerintahkan Rosul untuk melakukan tabayun, RCTI lebih senang menggunakan bahasa chek and recheck. Dalam bahasa jurnalistik lebih sering sering disebut dengan cover both side. Setelah dirunut-runut, ditanya dari berbagai sumber, akhirnya Rosul berkesimpulan bahwa berita yang dibawa Abun Naba' adalah berita fasiq (rusak baik si pembawa berita maupun materi berita). Abun Naba' di lingkungan Arab Gunung memang terkenal kerap melakukan fitnah (menceritakan kejelekan orang tapi tanpa bukti) bahkan ghibah (menjelek-jelekkan orang dengan bukti dengan niati menjatuhkan) . Sementara substansi berita juga tidak benar. Padahal cerita yang sebenarnya adalah, Aisyah istri Rosul saat perang Uhud tertinggal di padang pasir dan tersesat. Kebetulan ada seorang sahabat, Abu Darda, yang sedang menunggang kuda. Karena tahu yang tersesat adalah istri Rosul, maka Abu Darda menolong Aisyah dengan mempersilakan menaiki kuda tunggangannya, sedangkan Abu Darda berjalan memegang tali di depan kuda. Selama perjalanan menuju kota Mekah peristiwa itu disaksikan oleh sejumlah orang, termasuk Abun Naba. Begitu mengetahui dan mendapat klarifikasi dari Abu Darda, emosi Rosulpun mereda. Peristiwa itu adalah pelajaran yang sangat berharga bagi Rosul dan penduduk kota Mekah.
Wroted: Djony Edward