Sabtu, 20 September 2008

Better than a thausand Months



Surat al-Qadr adalah surat ke-97 menurut urutannya di dalam mushaf
al-Quran. Surat ini ditempatkan sesudah surat al-Alaq (Iqro'). Para
ulama tafsir menyatakan bahwa surat ini turun jauh sesudah turunnya
surat al-Alaq. Bahkan, sebagian di antara mereka, menyatakan bahwa
surat dalam al-Qadr turun setelah Nabi Muhammad saw. berhijrah ke
Madinah.

Penempatan dan Perurutan surat dalam al-Quran dilakukan langsung atas
perintah Allah SWT, dan dari perurutannya ditemukan
keserasian-keserasi an yang mengagumkan.

Kalau dalam surat al-Alaq, Nabi saw. diperintahkan (demikian pula kaum
Muslim) untuk membaca dan yang dibaca itu antara lain adalah al-Quran,
maka wajarlah jika surat sesudahnya-- yakni surat al -Qadr--berbicara
tentang turunnya al-Quran dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai
malam Nuzul al-Quran (turunnya al-Quran).

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Salah satu di
antaranya adalah laylatul qadr, satu malam yang oleh al-Quran dinamai
'lebih baik daripada seribu bulan'.

Tetapi, apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja
yakni pada malam ketika turunnya al-Quran lima belas abad yang lalu,
atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Bagaimana
kedatangan, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan
mendapatkannya? Benarkan ada tanda-tanda fisik material yang menyertai
kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya
pepohonan, dan lainnya)? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan
sering muncul berkaitan dengan malam al -Qadr itu.

Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan
pernyataan al-Quran, bahwa 'Ada satu malam yang bernama laylatur qadr'
(QS 97:1) dan bahwa malam itu adalah 'malam yang penuh berkah dimana
dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh
kebijaksanaan (QS 44:3).

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena Kitab Suci
menginformasikan bahwa ia diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan (QS
2: 185) serta pada malam al-Qadr (QS 97: 1). Malam itu adalah malam
mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini
diisyaratkan oelh adanya pertanyaan dalam bentuk pengagungan, yaitu Wa
ma adroka ma laylatul qadr.

Tiga belas kali kalimat ma adroka terulang dalam al-Quran. Sepuluh di
antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang terkait dengan hari
kemudian, seperti Ma adroka ma yaumu al fashl, ...al haqqh...'illiyyun,
dan sebaginya. Semua itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh
akal fikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Dari
keiga belas kali ma adroka itu terdapat tiga kali yang mengatakan: Ma
adroka ma al thariq, Ma adroka ma al 'aqobah, dan Ma adroka ma laylat
al qadr.

Kalau dilihat pemakaian al-Quran tentang hal-hal yang menjadi objek
pertanyaan, maka kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan sulit
dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal fikiran manusia. Hal ini
tentunya termasuk laylatul al qadr.

Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma
adroka dan ma yudrika yang juga digunakan oleh al -Quran dalam tiga
ayat:

Ma yudrika la'alla al sa'ata takunu gariba (Al Ahzab 63)
Wama yudrika la'alla al sa'ata qarib (Al Syura 17)
Wa ma yudrika la'allahu yazzaka (Abasa 3)

Dua hal yang dipertanyakan dengan wa ma yudrika adalah, pertama
menyangkut waktu kedatangan hari kiamat dan kedua apa yang berkaitan
dengan kesucian jiwa manusia.

Secara gamblang, al-Quran menyatakan bahwa Nabi saw. tidak mengetahui
kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang yang
gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh al Qur'an untuk
hal-hal yang tidak mungkin diketahui walaupun oleh Nabi saw. sendiri.
Sedangkan wa ma adroka, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya
Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi saw., sehingga informasi lanjutan
dapat diperoleh dari beliau.

Itu semua berarti bahwa persoalan laylatul qadr harus dirujuk kepada al
-Quran dan Sunnah Rosulullah saw., karena di sanalah dapat diperoleh
informasi.

Kembali pada pertanyaan semula, bagaimana tentang malam itu? Apa arti
malam al-Qadr dan mengapa malam itu dinamai demikian? Disini ditemukan
berbagai jawaban:

Kata qadr sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

1. Penetapan dan pengaturan sehingga laylatul qadr difahami sebagai
malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia (QS 44:3). Ada
ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Al-Quran yang
turun pada malam laylatul qadr diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT
mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad
saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya
akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu
maupun kelompok.

2. Kemuliaan. Malah tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya.
Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Quran serta karena
ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih (QS. al
An'am: 19) yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qodaru Allaha haqqo
qodrihi idz qolu ma anzala Allahu 'ala basyarin min syai'i (Mereka itu
tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala
mereka berkata bahwa Allah tidak menurnkan sesuatu pun kepada manusia).

3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya
malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat
al-Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS ar -Ra'ad: 26).

Ketika arti tersebut, pada hakikatnya, dapat menjadi benar, karena
bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila dapat diraih maka
ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu
malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan? Namun
demikian, apakah ia datang setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika
turunnya al-Quran lima belas abad lalu.

Dari al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu mempercayai
bahwa al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya
Nabi Muhammad saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat
bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang
diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu
turunnya al-Quran.

Pakar hadits, Ibnu Hajar, menyebutlkan satu riwayat dari penganut faham
di atas yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda bawha malam
qadr sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama dengan berpegang pada
teks ayat al-Quran serta sekian banyak teks hadits yang menunjukkan
bahwa laylatul qadr terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan, Rasul
saw. menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam
mulia itu secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua
puluh hari Ramadhan.

Memang, turunnya al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam
laylatul qadr, tetapi itu bukan berarti bahwa malam mulia itu hadir
pada saat itu saja. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya
disebabkan karena al-Quran ketika ia turun, tetapi karena adanya faktor
intern pada malam itu sendiri. Pendapat tersebut dikuatkan juga dengan
penggunaan bentuk kata kerja mudhari' (present tense) yang mengandung
arti kesinambunga, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa
datang.

Nah, apakah bila ia hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga
(tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam
yang menduganya demikian. Namun, dugaan itu keliru, karena itu dapat
berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik
untuk menyambutnya maupun tidak.

Di sisi lain, ini berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang
bersifat fisik material, sedangkan riwayat-riwayat demikian tidak dapat
dipertanggungjawabk an kesahihannya. Dan seandainya, ada tanda-tanda
fisik material, maka itupun tidak akan ditemui oleh orang-orang yang
tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya.

Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan betemu. Kebaikan dan
kemuliaan yang dihadirkan oleh laylatul qadr tidak mungkin akan diraih
kecuali oleh orang-orang yang tertentu saja. Tamu agung yang datang ke
suatu tempat , tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu,
walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya.

Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun
ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya? Demikian pula
dengan laylatul qadr.

Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan
ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia
diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua
puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan
kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya.
Dan itu pula sebabnya Rasul saw. menganjurkan sekaligus mempraktikkan
i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari
terakhir pada bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan laylatul
qadr datang menemui seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadi
saat qadr--dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya
pada masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat
titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di
akhirat kelak, dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai
dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupannya yang
baru kelak di hari kemudian.

Syaikh Muhammad 'Abduh pernah menjelaskan pandangan Imam al Ghazali
tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. Abduh memberikan
ilustrasi berikut:

"Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam
bisikan, yaitu bisikan baik dan buruk. Manusia sering kali merasakan
pertarungan antara keduanya, seakan apa yang terlintas dalam fikirannya
ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima
dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu
mencegah, demikian halnya sampai pada akhirnya sidang memutuskan
sesuatu."

Yang membisikan kebaikan adalah mailkat, sedangkan yang membisikan
keburukan adalah setan atau paling tidak penyebab adanya bisikan itu
adalah malaikat atau setan. Nah, turunnya malaikat, pada malah laylatul
qadr, menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa
ia akan selalu disertai oleh malaikat sehingga jiwanya selalu terdorong
untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu merasakan salam
(rasa aman dan damai) yang tidak terbatas sampai fajar malam laylatul
qadr, tetapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari
kemudian kelak."

Telah disebutkan bahwa Nabi saw., menganjurkan sambil mengamalkan
i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid
adalah tempat suci, tempat segala aktivitas kebajikan bermula. Di
masjid, seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya.
Juga, di masjid, seseorang dapat menghindar dari hiruk pikuk yang
menyesakkan jiwa dan fikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan
pengayaan iman. Itulah sebabnya ketika melakukan i'tikaf, seseorang
dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan al-Quran, atau bahkan
bacaan-bacaan lainnya yang dapat memperkaya iman dan ketakwaan.

Malam al qadr, yang ditemui atau menemui Nabi saw. pertama kali adalah
ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan
masyarakat. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunya al
Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah
perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup
umat manusia.

Dalam rangka menyambut kehadiran laylatul qadr itu yang beliau ajarkan
kepada umatnya, antara lain, adalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf
dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama saja, bahkan
dalam pandangan Imam Syafi'i, walaupun hanya sesaat selama dibarengi
oleh niat yang suci. Namun Nabi saw. selalu melakukannya pada sepuluh
malam hari dan malam terakhir bulan puasa. Disanalah beliau tadarus dan
merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya
adalah: Robbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah wa
qina 'adzabannar (Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka).

Doa ini bukan sekadar berarti memohon untuk memperoleh kebaikan dunia
dan akhirat, tetapi lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan
langkah dalam upaya meraih kebaikan yang dimaksud, karena doa
mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga
berarti upaya untuk menjadikan kebaikan dan kebahagiaan yang diperoleh
dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia,
tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Kalau yang demikian itu diraih oleh manusia, maka jelaslah ia telah
memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Karena itu, tidak heran jika
kita mendengar jawaban Rasul saw. yang menunjuk kepada doa tersebut,
ketika istri beliau A'isyah menanyakan doa apa yang harus dibaca jika
ia merasakan kehadiran laylatul qadr.

Semoga pada malam itu kita bisa ditemui dan menemuinya sehingga sejarah hidup kita berubah ke arah yang lebih baik. Aamiin!!!

VIva Forever for Our Friendship...












Viva Forever

Do you still remember
How we used to be
Feeling together believe in whatever
My love have said to me
Both of us were dreamers
Young love in the sun
Felt like my savior, my sprit I give you
We'd only just begun
( chorus )
Hasta manana always be mine
Viva forever I'll be waiting
Everlasting like the sun
Live forever for the moment
Ever searching for the one
Yes I still remember every whispered word
The touch of your skin
Giving life from within
Like a love song that I'd heard
Slipping through our fingers
Like the sands of time
Promises made every memory saved
Has reftections in my mind
But we're all alone now
Was it just a dream
Feeling untold, they will never the sold
And the secrets safe with me
Hasta Manana , always be mine
Viva forever I'll be waiting (Spice Girls’s song)



“Met Milad ya sayang,
May Allah give u All the Best..”


Warm regards,
irni

Selasa, 16 September 2008

Buat Apa Kerja...

Di tengah seabreg rutinitas, terkadang tiba-tiba kita merasakan kepenatan bekerja..dan muncul segala keluh kesah kita mulai dari 'A-Z'..
lama-kelamaan, muncul pertanyaan mengapa atau untuk apa kita bekerja??apakah hanya untuk mendapatkan 'segenggam berlian dan sesuap nasi'?? atau untuk mengejar karier tertinggi di tempat kita bekerja??atau bahkan hanya untuk mengisi kekosongan waktu dan mendadak menjadi orang yang perfectsionist, agar jika suatu saat di tanya oleh orang lain apakah sudah bekerja atau belum, maka kita sudah punya jawabannya, "ya...saya sudah bekerja.." dan secara 'sinis' anda mengatakan kepada diri kita sendiri, "nah..saya bukan pengangguran toh..??"

di titik inilah, saya menyadari..ternyata saya sendiri masih kurang mengetahui tujuan rutinitas yang setiap hari saya kerjakan..
hampir-hampir saya 'muak', karena tiba-tiba tersadar apakah saya hanyalah MESIN??atau ROBOT yang menjadi 'korban' gedung-gedung pencakar langit di Ibukota ini??..

Namun, ketika saya serahkan bahwa ada yang menggenggam diri, jiwa, dan kehidupan ini..maka saya mencari tahu..adakah hubungan antara kerja dengan ibadah??karena, saya khawatir, jangan-jangan selama ini pekerjaan yang saya jalani hanya RUTINITAS dan KESIBUKAN untuk mengejar DUNIAWI semata, yang mungkin..sama sekali tak bernilai di sisi-Nya dan mungkinkah kerja-kerja KE-DUNIAWI-AN kita itu dinilai olehNya??lalu seharusnya apa yang tepat untuk kita jadikan TUJUAN dari pekerjaan yang kita lakukan??dan bagaimanakah posisi rutinitas kerja kita itu dimata Allah??

***********

Bekerja merupakan kewajiban Muslim yang sehat fisik dan mental. Orang yang bekerja dengan benar, dalam rangka menjalankan perintah dan mengharapkan ridho Allah akan mendapat ganjaran pahala dari-Nya. Sebaliknya, orang yang mengabaikannya mendapat dosa, apabila tidak ada halangan syar'i dalam mewujudkannya.

Kerja merupakan wujud syukur kepada Allah. Orang bekerja berarti telah menggunakan nikmat kesehatan fisik yang diberikan Allah secara baik dan benar. Allah berfirman, "Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS 34:13).

Islam menghargai orang yang makan dan minum dari hasil kerja sendiri. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan itu lebih baik daripada mengonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab Nabi Allah, Daud, mengonsumsi makanan dari hasil kerjanya." (HR Bukhari). Hadis ini mendorong Muslim bekerja memperoleh kebutuhan hidup menggunakan tangan dan kekuatan fisik. Kemuliaan dan kehormatannya ditentukan oleh kemampuan menggunakan potensi diri untuk bekerja.

Dalam bekerja harus ada rencana yang baik dan matang karena akan menentukan keberhasilan dari kerja tersebut. Rencana dibuat untuk jangka pendek dan panjang. Allah berfirman, "Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 59:18).

Muslimin diperintahkan Allah bekerja, tetapi ia tidak mengetahui dan bisa memastikan hasilnya. Ini pula yang mendorongnya bekerja maksimal agar mencapai hasil memuaskan. Allah berfirman, "Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS 31:34).

Setiap Muslim dituntut bekerja sekuat tenaga dan mengerahkan segala kemampuan. Allah menilai kesungguhannya dalam bekerja. Allah berfirman, "Katakanlah: 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah di antara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini'."(QS 39:39).

Kerja merupakan bagian ibadah kepada Allah, sehingga dilakukan dengan cara terbaik. Kerja tidak boleh melalaikan Muslim dari ibadah kepada Allah. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS 62:9).

Setelah bekerja secara maksimal, Muslim dituntut tawakal, menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal penting agar ketika berhasil tidak lupa bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan hasil kerja tersebut. Dan ketika gagal, ia tidak putus asa karena hal itu ujian dari Allah agar kita bersabar. Allah berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS 33:3).

Last Updated ( Friday, 02 December 2005 )
sumber :http://riskaonline.org

Jumat, 12 September 2008

LASKAR PELANGI....















Lirik lagu Nidji - Laskar Pelangi


mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya


http://www.4shared.com/get/61039294/de611e22/nidji_-_laskar_pelangi.html

PILIH MANA: ILMU, FILSAFAT ATAU AGAMA???

Suatu hari seorang mahasiswa yang sedang kebingungan memahami hidup bertanya pada dosennya, "Pak mana sih yang perlu kita pegang dalam menghadapi masalah hidup. Ilmu, filsafat atau agama?"

Pertanyaan ini tentu saja menyentakkan sang dosen yang sebenarnya memiki fak mengajar Akuntansi. Untung saja, saat sang dosen masih mahasiswa sempat aktif di lingkungan pengajian, sehingga dia bisa memberi dan menguraikan perbedaan tiga ranah pemikiran itu dengan bijak dan akurat.

Namun sang dosen juga berusaha menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru. Penjelasan dosen itu demikian. "Pada dasarnya ketiga cabang pengetahuan itu (ilmu, filsafat dan agama) sering menjadi bagian dari cara manusia mengambil keputusan. Hanya saja satu sama lainnya saling berjalin berkelindan, sesuai dengan kapasitas persoalan yang dihadapi."

Sang dosen masih menjelaskan, namun lebih hati-hati agar tidak terperangkap dalam bias. "Ketiga cabang pengetahuan itu pada dasarnya sama manfaatnya bagi manusia, yang membedakan adalah pada tiga hal: proses memperolehnya, dasar dan sifat kebenaran yang ditawarkan."

Ilmu, menurut sang dosen, dalam proses memperolehnya melalui penelitian lewat pembuktian laboratorium. Yang mendasari bekerjanya ilmu adalah akal sehat, sehingga kebenaran yang ditawarkan bersifat positf relatif. Artinya, kebenaran yang ditawarkan ilmu itu memang benar, tapi tidak mutlak.

Sementara filsafat pada dasarnya merupakan proses berfikir secara radikal, penuh logika. Akal adalah dasar dari filsafat menjelaskan segala hal, segala yang masuk akal adalah benar menurut versi filsafat. Segala hal yang tidak masuk akal adalah tidak benar. Karena itu sifat kebenaran yang ditawarkan filsafat adalah spekulatif.

Sedangkan agama (khususnya Islam), proses turunnya melalui wahyu, sehingga titik tolaknya adalah wahyu Allah. Sementara dasar memahami agama adalah dengan pendekatan akal dan hati. Check and balance antara akal dan hati ini pada akhirnya menawarkan kebenaran yang mutlak.

Mahasiswa itupun protes, "Apa alasannya kebenaran agama itu mutlak, apakah kebenaran agama itu sempurna?" Maklum sang mahasiswa lagi gandrung dengan pemikiran Karl Marx, bahkan dia sedang menghabiskan setengah dari buku Das Capital yang dimilikinya.

Dengan lebih hati-hati sang dosen menjawab, "Alasannya, pertama, dalam kitab suci jelas-jelas mengklaim bahwa Al haq mirrobbika falaa takunanna minal mumtarin (Kebenaran dari Tuhan itu adalah mutlak dan hakiki, maka janganlah mencari kebenaran yang lain)."

"Kedua, kebenaran agama terjaga dan terabadikan dalam kitab suci Al Qur'an, dimana di dalamnya ada instrumen yang menjaga kesuciannya dari tangan-tangan kotor yang berusaha menodainya. Yakni ilmu kelengkapan memahami Al Qur'an, seperti tajwid (membaca dengan benar), tartil (membaca dengan indah), mantiq (logika kitab suci), balaghoh (asal usul kata dan bahasa) nahwu sharaf (gramatika) dan siroh (sejarah sebagai instrumen konfirmasi). "

"Ketiga, kebenaran agama berangkat dari kitab suci al-Quran yang konfirmasinya ada pada alam raya. Soal manusia dari tiada, dihidupkan, dimatikan dan dihidupkan lagi, dan akhirnya kembali pada-Nya. Soal astronomi, soal fenomena gunung meletus, langit tanpa tiang, serta soal air laut yang terbelah antara air asin dan air tawar, air panas dan air dingin, dst."

"Keempat, kebenaran agama berangkat dari tokoh yang menjadi penyampai pesannya (devine messenger). Aisyah mengatakan Rasulullah itu adalah al-Quran yang berjalan: jujur, berani, bersih, mengayomi, konsisten, dan ajarannya mampu mempengaruhi 2/3 dunia. Sejarah yang tak pernah terulang hingga detik ini."

"Kelima, kebenaran agama kendati disingkirkan, dibantai, dimusnahkan, tetap abadi karena memang yang menjaga langsung adalah Allah SWT melalui orang-orang cerdasnya, orang-orang berani, orang-orang yang tidak takut akan mati."

Sang mahasiswa akhirnya mengerti betapa kelengkapan- kelengkapan yang ditawarkan dalam agama pada akhirnya menawarkan kebenaran yang sifatnya mutlak....demikian simpulnya sambil mengancam kalau-kalau ada kebenaran yang lebih tinggi yang terus dicarinya!!!

APA Perlunya BERAGAMA??

Dalam kehidupan yang sangat materialistik, batas antara Tuhan dan kebendaan menjadi tipis, kadang Tuhan menjelma menjadi jabatan, peluang, karir dan lainnya. Sehingga beragama pada abad sekarang ini serasa hampa.

Atau paling tidak agama diakui eksistensinya, namun dipinggirkan perannya dalam sudut-sudut individual. Sebagaimana diungkap John Locke: "Agama bersifat khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi orang lain memberi petunjuk kepadaku jika jiwaku sendiri tidak memberitahu kepadaku."

Begitu pula ungkapan kalangan profesional muda akhir-akhir ini. Benarkah sinyalemen ini?

Pandangan pakar abad 16-17 itu langsung dibantah oleh Mahmud Syaltut dengan pernyataannya: "Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia."

Sementara Syaikh Muhammad Abdullah Badran lebih mengangkat definisi Al Quran dengan pendekatan kebahasaan. Din yang biasa diterjemahkan sebagai agama menggambarkan "hubungan antara dua pihak dimana yang pertama punya kedudukan lebih tinggi daripada yang kedua."

Memang, pada dasarnya manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu. Ketika itu yang diketahuinya hanya 'saya tidak tahu'. Tapi kemudian, dengan panca indra, akal, dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah.

Dengan coba-coba, pengamatan, pemikiran logis, dan pengalamannya, ia menemukan pengetahuan. Namun demikian, keterbatasan panca indera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya yang muncul dalam benaknya tidak dapat terjawab.

Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah ia bila tidak terjawab. Hal ini antara lain dikarenakan manusia memiliki naluri ingin tahu (couriosity) .

Kalau demikian, manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mendesak yang mengganggu ketenangan jiwanya atau menjadi syarat bagi kebahagiaannya. Disinilah informasi Tuhan itu datang.

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang apa informasi itu dan bagaimana diperoleh, kita lihat sisi lain dari sebab kebutuhan manusia terhadap agama. Sisi itu adalah sisi kehidupannya sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ada sekian banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Petani memerlukan baju yang tidak dapat dibuatnya sendiri, karena keterbatasan waktu dan pengetahuannya. Di sisi lain penenun membutuhkan makan, ikan, garam, lauk pauk, dan lainnya. Bila sakit ia membutuhkan dokter dan obat serta masih banyak lagi kebutuhan manusia yang kesemuanya baru dapat terpenuhi apabila mereka bekerja.

Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai ke tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berlain-lainan, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan.

Nah, dengan demikian, ia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Manusia membutuhkan rambu-rambu lalu lintas yang akan memberinya petunjuk seperti kapan harus berhenti, harus hati-hati dan kapan berjalan.

Siapa yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? Manusiakah? Paling tidak dalam persoalan pengaturan di atas, manusia mempunyai dua kelemahan: pertama, keterbatasan pengetahuannya. Kedua, sifat egoisme atau ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Kalau demikian, yang seharusnya mengatur lalu lintas kehidupan adalah Dia yang paling mengetahui sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun. Yang dimaksud adalah Allah SWT.

Allah yang menetapkan peraturan-peraturan tersebut, baik secara umum, berupa nilai-nilai, maupun secara rinci. Khususnya bila perincian petunjuk itu tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Peraturan-peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

Lantas bagaimana informasi keagamaan itu diterima manusia? Pada dasarnya menusia memperoleh pengetahuan berkat usahanya dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tetapi, dalam kenyataannya, terkadang manusia memperoleh pula informasi tanpa ada upaya darinya.

Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bahwa ada dua faktor dalam setiap aksi pengetahuan, yaitu subjek dan objek. Sehubungan dengan proses pemahaman, ada dua kemungkinan proses. Pertama, subjek merangkum objek dengan potensi (alat-alat) yang dimilikinya. Kedua, objek yang memperhatikan dirinya sendiri kepada subjek. Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat, sedangkan jalur kedua adalah jalur agama dan yang dikenal dengan istilah wahyu.

Para ahli memberi contoh untuk ini dengan mimpi-mimpi yang benar. Semakin suci dan bersih jiwa seseorang, semakin sering ia bermimpi dengan mimpi yang benar. Enam bulan sebelum menerima wahyu pertama, Rosulullah Muhammad SAW selalu bermimpi dan selalu terbukti kebenaran mimpinya. "Mimpi yang benar adalah seperempat puluh enam dari wahyu kenabian." demikian sabda Nabi SAW. Contoh lain adalah, planet-planet yang jauh sekali sehingga jangankan pandangan mata, alat-alat teleskop pun tidak dapat menjangkaunya. Tetapi, sesekali planet-planet itu memasuki wilayah dimana kemampuan alat-alat manusia dapat menajngkaunya. Seperti komet Hally, setiap tujuh puluh tahun ia datang menampakkan dirinya.

Di sini, objek datang kepada manusia. Para ahli yang menggunakan alat-alatnya mengetahui persis keadaan komet tersebut. Para ahli yang tidak hidup pada masa kedatangan komet tersebut atau memiliki alat-alat, tetapi tidak dapat melihatnya, membenarkan keterangan para ahli yang melihatnya.

Demikian wahyu-wahyu Ilahi yang diterima manusia-manusia tertentu, dalam hal ini para nabi. Walaupun yang lain tidak menerimanya, namun mereka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Memang ada saja manusia meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah SWT akan memberikan bukti kebenaran. Mereka yang meragukan ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan manusia pilihan Tuhan itu seperti para nabi. Bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai mu'jizat. Allah sendiri menuding mereka yang tak memerlukan agama adalah makhluq asosial, atau makhluk yang sombong!!!

Kamis, 11 September 2008

Keutamaan Al-Qur'an

sumber: Tafsir Sepersepuluh dari Al-Qur’an Al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting bagi Muslim, hal 74-75. http://www.%20tafseer.info/


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan kekasih kita, Rasulullah, keluarga beserta para sahabat beliau, shalallahu ‘alaihi wasalam.


Amma ba’du

Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah. Keutamaannya atas segala perkataan seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya. Membacanya adalah amalan yang paling utama dilakukan oleh lisan.
Keutamaan Mempelajari, Mengajarkan, dan Membaca Al-Qur’an


Pahala mengajarkannya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Pahala membacanya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Keutamaan mempelajari al-Qur’an, menghafalnya, dan pandai membacanya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:

“Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membaca di dunia karena kedudukanmu terletak pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Khaththabi mengatakan:
“Disebutkan dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Qur’an adalah sesuai dengan jumlah tingkatan dalam surga. Dikatakan kepada pembaca (al-Qur’an), ‘Naiklah dalam tingkatan sesuai dengan ayat al-Qur’an yang sebelumnya kamu baca (di dunia).’ Karena itu siapa yang membaca dengan sempurna seluruhnya al-Qur’an, maka ia menempati tingkatan surga yang paling atas di akhirat. Sedang siapa yang membaca sesuatu juz darinya, maka kenaikannya dalam tingkatan surga sesuai dengan bacaannya itu. Dengan demikian, akhir pahalanya adalah pada akhir bacaannya.

Pahala bagi orang yang anaknya mempelajari Al-Qur’an.

“Siapa saja membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya yang sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanyapun bertanya, ‘Bagaimana dipakaikan kepada kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘Karena anakmu telah membawa al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Al-Qur’an memberi syafa’at kepada ahlinya di Akhirat.
Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para ahlinya.” (HR. Muslim)

Dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Puasa dan al-Qur’an, keduanya akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat…” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Pahala bagi orang yang berkumpul untuk membaca dan mengkajinya.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam:
“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah Ta’ala, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Pelipatgandaan Pahala Bacaan

Setiap orang yang membaca al-Qur’an dengan ikhlas Lillahita'ala, maka ia mendapat pahala. Namun pahala ini dilipatgandakan jika disertai dengan kehadiran hati, penghayatan, dan pemahaman terhadap ayat yang dibaca. Maka satu huruf bisa dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kebaikan, bahkan tujuh ratus kali lipat.
Jumlah Ayat yang Dibaca dalam Sehari Semalam
Para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam biasanya membuat untuk diri mereka sendiri sejumlah ayat al-Qur’an untuk dibaca setiap hari. Tidak seorangpun dari mereka yang senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu kurang dari tujuh hari. Bahkan ada larangan berkenaan dengan mengkhatamkan al-Qur’an kurang dari tiga hari.
Maka berupayalah dengan sungguh-sungguh saudaraku, untuk memanfaatkan waktu Anda dengan membacanya. Buatlah untuk diri Anda kadar bacaan harian, dan janganlah Anda meninggalkannya dalam keadaan bagaimanapun. Sedikit tapi terus menerus lebih baik daripada banyak tapi terputus. Karena itu, jika Anda lalai atau ketiduran maka laksanakan gantinya pada esok harinya.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Siapa saja tidur melupakan hizbnya atau sesuatu darinya, lalu membacanya pada waktu antara Shalat Subuh dan Shalat Zhuhur, maka dicatat baginya pahala seakan-akan ia telah membacanya di malam hari.” (HR. Muslim)

Rabu, 10 September 2008

Mengapa kita membaca Al-Quran meskipun kita tidak mengerti artinya?

Seorang Muslim tua, Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.
Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur'An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, "Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air." Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. " Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita."
(milist INSANI13)

BERITA, FITNAH, dan GIBAH

Pekerjaan jurnalistik adalah pekerjaan yang sangat riskan dalam hal suguhan informasi. Paling tidak, suguhan informasi yang ditawarkan bisa berkualitas berita, bisa fitnah dan bisa ghibah. Tiga kualitas informasi tersebut secara kasat mata sulit dibedakan. Ketiganya hanya dibatasi oleh selaput dinding yang tipis, karena itu peran cover both side menjadi kewajiban yang tak terelakkan. Berita pada dasarnya merupakan informasi tentang sesuatu yang faktanya sama dengan yang diinformasikan. Berita bisa bernuansa memuja, mengevaluasi, mengkritik, bahkan sekadar pemaparan biasa. Fitnah, merupakan jenis informasi yang mana isinya berbeda dengan faktanya. Biasanya berita yang disampaikan si penutur lebih buruk dari fakta yang sesungguhnya. Karena itu fitnah, sering diistilahkan Rosul, sebagai perbuatan yang lebih keji dari pembunuhan. Bagaimana tidak, orang yang ditifnah seperti mayat yang tak berdaya dicaci maki dan diburuk rupai sedemikian rupa, sehingga terkesan buruk laku yang tak terampuni. Padahal, mereka yang kerap memfitnah menderita dua kerugian, sebaliknya yang difitnah mendapat dua manfaat sekaligus. "Dosa orang yang difitnah itu akan pindah kepada yang memfitnah, sampai dosa itu habis. Kemudian pahala orang yang memfitnah berpindah kepada yang difitnah," demikian salah satu sahih Bukhori Muslim. Atas dasar riwayat tersebut, suatu hari Imam Syafi'ie mendapat aduan dari istrinya, bahwa para tetangganya telah memfitnah sang imam. Tanpa banyak cingcong, Imam Syafi'ie menyuruh istrinya memasak gulai dan membagikan gulai tersebut kepada para tetangga yang memfitnahnya. Lalu istrinya bertanya, "Mengapa engkau malah menghadiahi orang yang memfitnah dengan gulai-gulai itu?" Imam Syafi'ie manjawab," Karena pahalaku bertambah dan dosaku berkurang." Akan halnya ghibah, Rosulullah pernah bertanya pada sahabat," Bisakah kalian membedakan antara fitnah dan ghibah?" Sahabat menjawab," Tidaklah Rosulnya lebih tahu daripada yang ditanya." Lalu Rosul menjelaskan, "Fitnah itu adalah memberitakan saudara lebih buruk dari yang sesungguhnya. Sedangkan ghibah membicarakan aib saudaramu sesuai keburukan yang dilakukan." Lantas mana lebih parah antara memfitnah dengan menggibah? Rosul mengatakan dosa memfitnah setara dengan membunuh seorang manusia. Sedangkan dosa mengghibah setara melakukan 20 kali berzinah. Pendek kata, keduanya sama-sama tergolong dosa besar. Pertanyaan berikutnya, apa beda mengghibah dengan berita benar tentang seseorang. Bedanya terletak pada moral ketika aib itu dipaparkan. Berita memaparkan aib seseorang dengan tujuan untuk memperbaikinya, sedangkan ghibah memaparkan aib saudara dengan tujuan memang ingin melakukan caracter assasination, menghinakan, dan menistakan. Sikap Rosul Suatu hari dengan tergesa-gesa datang seorang sahabat dari keturunan Arab Gunung kepada Rosulullah, bernama Abun Naba'. Dia membawa berita kontroversial, dikatakan bahwa Aisyah istri Rosul telah berzinah. Sontak jantung Rosul berdetak keras sambil giginya gemeretak geram. "Apa aku kurang membimbing sang istri, apa aku kurang memuaskan, apa aku kurang memberi nafkah, apa aku kurang perhtaian?" demikian Rosul berprasangka terhadap dirinya sendiri. Berita itupun tersiar ke pelosok Mekah sehingga menimbulkan under estimate terhadap istri Rosul. Dalam kebingungan dan gundah gulana, tiba-tiba badan Rosul bergetar keras, keringat bak butiran jagung bercucuran dari kening dan sekujur tubuhnya. Ternyata saat itu Rosul baru mendapat wahyu terkait dengan informasi Abun Naba'. "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasiq kepadamu membawa berita, maka bertabayunlah. .." demikian penggalan surat Al Hujurot ayat 6 yang baru diterima Rosul. Rosul diingatkan tentang bagaimana bersikap terhadap berita yang sampai kepadanya, apalagi berita itu menyangkut berita buruk. Allah memerintahkan Rosul untuk melakukan tabayun, RCTI lebih senang menggunakan bahasa chek and recheck. Dalam bahasa jurnalistik lebih sering sering disebut dengan cover both side. Setelah dirunut-runut, ditanya dari berbagai sumber, akhirnya Rosul berkesimpulan bahwa berita yang dibawa Abun Naba' adalah berita fasiq (rusak baik si pembawa berita maupun materi berita). Abun Naba' di lingkungan Arab Gunung memang terkenal kerap melakukan fitnah (menceritakan kejelekan orang tapi tanpa bukti) bahkan ghibah (menjelek-jelekkan orang dengan bukti dengan niati menjatuhkan) . Sementara substansi berita juga tidak benar. Padahal cerita yang sebenarnya adalah, Aisyah istri Rosul saat perang Uhud tertinggal di padang pasir dan tersesat. Kebetulan ada seorang sahabat, Abu Darda, yang sedang menunggang kuda. Karena tahu yang tersesat adalah istri Rosul, maka Abu Darda menolong Aisyah dengan mempersilakan menaiki kuda tunggangannya, sedangkan Abu Darda berjalan memegang tali di depan kuda. Selama perjalanan menuju kota Mekah peristiwa itu disaksikan oleh sejumlah orang, termasuk Abun Naba. Begitu mengetahui dan mendapat klarifikasi dari Abu Darda, emosi Rosulpun mereda. Peristiwa itu adalah pelajaran yang sangat berharga bagi Rosul dan penduduk kota Mekah.
Wroted: Djony Edward